Quote: ‘Saat Pahlawan Lewat di Jalan, Harus Ada yang Bertepuk Tangan’

0

Ana adalah seorang gadis kecil yang cantik namun tidka banyak bicara. Di sekolah ia termasuk murid yang biasa-biasa saja, tidak terlalu baik dalam nilai akademik. Rangking 20 dari 30 siswa tentunya bukan hal yang bisa dibanggakan. Namun bukan alasan juga untuk tidak mensyukuri.

Tapi rangking 20 nya bertahan hingga beberapa semester ke depan. Ana tetap tidak memperlihatkan kemungkinan untuk memperkecil rangkingnya. Bahkan ketika semua teman sekelasnya semangat bercerita tentang cita-cita dimasa depaan, saat teman perempuannya banyak yang ingin menjadi dokter, atau perawat, artist, pembaca acara, Ana hanya menggeleng lemah menandakan bahwa ia tidak ingin berprofesi sperti temannya tersebut.

Keresahan orang tua Ana semakin terlihat, hingga suatu malam ketika mereka tengah nonton bersama di ruang tv.Ana, lihat! gadis kecil itu seumuran dengan kamu, tapi sudah bisa masuk Universitas. Ana tidak mau seperti itu?” Ayah Ana memncoba memberikan pancingan agar anaknya termotivasi. Tapi jawaban Ana kemudian membuat ayahnya diam terhenyak, “Tapi kan aku tidak memiliki ayah sejenius ayah yang dia punya”

Saat itu musim liburan, sepupu Ana datang berkunjung dan menginap. Ana bermain dengan sepupunya, ia hanya banyak diam dan memperhatikan. Sementara sepupunya sibuk bermain. Sepupunya sibuk membanggakan diri dengan cita-cita masing-masing kepada ibu mereka. Sedangkan ana dengan percaya diri menjawab, ia ingin menjadi seperti ibu, mengenakan celemek dan berlama-lama di dapur, memasak dan membersihkan perlatan.

Baca Juga :   Quote : " Jangan Rusak Anak dengan Persepsi Negatif Orang Tua"

Tentunya hal itu membuat Ana semakin dipandang aneh oleh sepupunya, dan juga keluarga besar, termasuk ayah dan ibu Ana. Berikutnya, Ana dipaksa untuk ikut les piano, les menari, les menyanyi, les bahasa inggris. Ana terlihat letih dengan jam bermain yang dikurang dan diporsir untuk kursus. Namun  bukannya naik, rangking ana justru turun, bahkan kemudian Ana jatuh sakit.

Ibu Ana menyesal telah merenggut masa kanak-kanak anaknya, tidak seharusnya waktu bermain Ana dipaksakan untuk kursus. Tapi meskipun sakit, ana tetap berusaha untuk ceria, hal itu justru menambah sedih ibunya.

Akhirnya ibunya bertanya, kenapa Ana terus saja ‘berbeda’ dengan anak seusianya. Ana bercerita Saat ada pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di pinggir jalan. Aku tidak mau menjadi pahlawan, Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan”

Jawaban Ana meruntuhkan hati ibunya. Ibunya tak kuasa menahan tangis, ia menyesali pemaksaan kehendaknya kepada Ana. Ia belum sepenuhnya mengerti Ana. Terlambat ia mengetahui keunikan ANa yang selama ini dianggapnya “berbeda”. Bahkan kemudian guru Ana di sekolah membenarkan bahwa Ana adalah murid yang paling disenangi teman-temannya. Ana bisa mengembalikan suasana ceria dengan cepat, sehingga ia menjadi pusat kebahagiaan teman-temannya.

Baca Juga :   Quote : "Jadilah Peserta ke 11 yang Menang dengan Cara 'Cerdik'

Setiap orang terlahir unik. Hanya saja tidak semua orang bisa ‘menerima’

Comments

comments

Share.

About Author

Undergraduated student from University of Indonesia. Tertarik pada ilmu perilaku dan manusia. Setiap manusia itu unik, hanya tak semua bisa mengerti dan menerima.

Comments are closed.