Quote : “Jadilah Peserta ke 11 yang Menang dengan Cara ‘Cerdik’

0

Sang Raja risau dengan masa depan kerajaan. Dinasti yang dibangun keluarga bertahun-tahun tidak boleh jatuh ke tangan penerus yang lemah. Namun dilema, yang dimilikinya adalah seorang putri cantik yang lebih akrab dengan keanggunan dan perawatan. Jangankan mengangakat senjata, memegang sisir saja dilakukan oleh pelayan istana.

Putri tumbuh dewasa, hal itu menimbulkan kecemasan bagi raja. Karena putrinya sekarang sudh tidak kecil lagi, itu artinya dirinyapun semakin tua dan lemah. Untuk itu, demi menjaga masa depan putrinya dan kerajaan, Sang raja haruslah mencarikan pasangan yang tepat, dan pastinya tangguh. Satu-satunya cara adalah dengan mengadakan sayembara. Membiarkan para kesatria bertarung untuk mencari yang terkuat.

Kabar sayembara tersebar cepat bersama angin. Pada hari yang ditentukan berbondong-bondonglah para pangeran dan kesatria berdatangan. 11 orang lelaki tampan, kuat dan cekatan mencatatkan nama mereka untuk ikut serta. Mereka ingin mempertujukan kebolehan dan taji masing-masing. Sang raja menyambut peserta dengan istimewa di istananya.

“Di utara kerajaan ini, ada hutan terlarang. Disana hidup binatang buas yang hampir tidak mungkin ditangkap. Kemungkinan mati bukan tidak mungkin. Tapi bagi siapa saja yang berhasil kembali dna membawa kepala hewan buas tersebut, berhak menikah dengan putri tunggal saya, sekaligus menjadi suksesor kerajaan”

Semua kesatria tanpa takut mati berangkat menuju hutan terlarang tersebut. 10 orang peserta masuk ke hutan dengan memegang senjata masing-masing. Anehnya ada satu orang yang berhenti di pinggir hutan, ia duduk dan mengasah senjata yang ia bawa.

Baca Juga :   Quote: 'Saat Pahlawan Lewat di Jalan, Harus Ada yang Bertepuk Tangan'

Ternyata ucapan raja tidak bohong, medan di hutan tersebut memang sangat mematikan, licin, banyak jebakan, belum lagi binatang buas yang siap menerkam.Pertengahan pertandingan, dari 10 orang yang masuk hutan, hanya tinggal 3 orang. Sisanya sudah tumbang bahkan sebelum menemukan hewan raja buas di hutan tersebut. Ketiga pejuang yang tersisa saling unjuk keberanian. Tak hanya melawan binatang buas, mereka juga saling serang satu sama lain. Akibatnya satu orang lagi tumbang.

Dua orang peserta yang masih bertarung membunuh binatang buas tersebut tampak lelah dan kesakitan, luka sana sini, tapi mereka tak menyerah. Singkat cerita hewan tersebut berhasil dipancung, setelah salah satu kesatria ‘dikorbankan’.

Baca Juga :   Ini yang Terjadi Kalau Ikan dipaksa Untuk Bisa Memanjat Pohon

Peserta ke 10 tersebut menyeret kepala buruannya ke tepi hutan. Disana ia menemukan peserta ke 11 telah selesai mengasah pisau. Tanpa disangka, peserta terakhir ini dengan cepat menikam rivalnya tersebut. Sekali tebas tumbang, apalagi kompetitornya tersebut telah berdarah-darah berjuang melawan tak hanya 9 orang peserta lain, tapi juga memancung kepala bianatang yang disayembarakan. Peserta ke 11 kemudian melenggang santai membawa tanda kemenangan yang bisa ia tukar dengan nasib menjadi suksesor kerajaan.

Kemunculan peserta ke 11 kembali di intana mengagetkan raja dan warga kerajaan. Pasalnya pemenang sayembara tak menunjukan tanda lelah, takut, marah, bahkan tanpa ada keringat apalagi darah. Apakah tes ini terlalu mudah, bathin sang raja. Namun janji adalah janji dan pemenang sudah didepan mata. Tidak ada alasan bagi raja untuk tidak menjadikan kesatria ke 11 sebagai suksesornya.

Comments

comments

Share.

About Author

Undergraduated student from University of Indonesia. Tertarik pada ilmu perilaku dan manusia. Setiap manusia itu unik, hanya tak semua bisa mengerti dan menerima.

Comments are closed.